Dokumen IPO Anthropic soroti ketergantungan pusat data AI pada gas
Berkas S-1 Anthropic menyebut pusat datanya kian bergantung pada gas alam, sehingga kenaikan biaya bahan bakar, kendala pasokan, dan regulasi bisa menghambat ekspansinya.
Anthropic, pengembang AI yang bersiap melantai di bursa, mengakui dalam berkas pendaftaran S-1 bahwa pusat data kian bergantung pada gas alam. Menurut The Verge, yang mengulas dokumen itu, ketergantungan tersebut membuat pembangunan pusat data perusahaan rentan terhadap kenaikan biaya bahan bakar dan kendala rantai pasok yang sudah ada.
S-1 adalah formulir pendaftaran penawaran umum perdana ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Menurut rilis Anthropic, pendaftaran itu belum efektif, jumlah saham dan kisaran harga belum ditentukan, dan efek belum boleh dijual.
Yang dinyatakan dokumen
Dalam terjemahan bebas, Anthropic menulis bahwa persaingan untuk mendapatkan akses ke pasokan listrik dan lokasi pusat data dengan daya memadai “sangat intens”. Perusahaan menambahkan bahwa sebagian pusat data yang direncanakan bergantung pada listrik dari turbin gas di lokasi.
Anthropic menyewa kapasitas dari penyedia layanan awan raksasa (hyperscaler). Namun tahun lalu perusahaan mengumumkan rencana US$50 miliar untuk memperluas pusat data di Texas dan New York.
Perusahaan juga memperkirakan persaingan yang lebih ketat untuk gas alam dan kapasitas pipa dari para hyperscaler dan penyedia layanan awan. Menurut S-1, “persaingan ini dapat mendorong naik harga gas alam”. Tanpa pasokan gas dan pipa yang aman, perusahaan menyebut mungkin harus menunda atau membatalkan proyek pusat data.
Dilema iklim
The Verge menyoroti sisi yang disebutnya mirip catch-22, situasi serba salah. Gas alam, yang menurut The Verge sebagian besar berupa metana, adalah bahan bakar fosil. Di sisi lain, Anthropic menyatakan kenaikan suhu global akan menambah biaya operasionalnya, antara lain biaya listrik dan air untuk mendinginkan server. Pembingkaian dilema itu berasal dari The Verge, bukan dari dokumen.
S-1 juga menyinggung risiko regulasi. Jika upaya mengamankan listrik dianggap memengaruhi pelanggan utilitas lain dan jaringan secara luas, kata Anthropic, regulator dapat menetapkan syarat, biaya siaga (standby charges), atau ketentuan lain. Bila pengembang diminta menanggung lebih banyak biaya infrastruktur energi baru, biaya operasional perusahaan juga bisa naik.
Perusahaan menyimpulkan bahwa kegagalan mengamankan listrik yang memadai, perubahan hukum atau regulasi yang membatasi pasokan, atau kenaikan biaya energi dan kepatuhan yang signifikan dapat memengaruhi struktur biayanya dan membatasi kemampuannya menambah skala komputasi, mengembangkan model, dan melayani pelanggan.
Konteks: gas, turbin, dan perebutan lokasi
Menurut The Verge, AS adalah pusat pusat data dunia dan merencanakan tambahan kapasitas pembangkit berbahan bakar fosil terbesar dalam satu dekade. Gas menyumbang sekitar 40 persen pembangkitan listrik AS, dan warga sudah merasakan kenaikan biaya karena utilitas berebut memperbarui infrastruktur. The Verge juga melaporkan warga yang marah berhasil menghalangi puluhan usulan pusat data di AS.
The Verge menyebut kelangkaan turbin gas memperlambat konstruksi pusat data. Sebagian pengembang memasang mesin gas di lokasi untuk menghindari antrean sambungan ke jaringan listrik, dan beralih ke turbin yang lebih sederhana karena pabrikan punya tunggakan pesanan. Akibatnya, menurut The Verge, pembangkit di lokasi menjadi kurang efisien dan lebih mencemari.
Wired menjelaskan perbedaannya. Turbin siklus sederhana membakar campuran bahan bakar dan udara dan melepas banyak panas buangan, sedangkan unit siklus gabungan menambah turbin uap untuk memanfaatkan panas itu sehingga emisinya lebih rendah untuk energi yang sama. Wired melaporkan jenis sederhana kian umum dipakai pengembang pusat data karena cepat dipasang.
Utility Dive melaporkan bahwa Electric Power Research Institute (EPRI) memperkirakan pusat data akan menyumbang hingga 17 persen permintaan listrik AS pada 2030. Media itu juga mencatat sulitnya pengembang menemukan lokasi dengan kapasitas jaringan cadangan yang besar. Menurut BloombergNEF yang dikutip Utility Dive, jeda interkoneksi jaringan yang didorong Gubernur Texas Greg Abbott mengancam hingga 20 persen jalur pengembangan pusat data AS. Goldman Sachs memprediksi hanya 50-60 persen kapasitas yang direncanakan akan beroperasi sesuai rencana dalam dua tahun, di tengah penundaan dan pembatalan.
Dampak lingkungan
The Verge mengutip satu studi berbasis di Texas yang menemukan bahwa kebutuhan listrik pusat data dapat menghapus kemajuan kualitas udara selama puluhan tahun dalam lima tahun ke depan. Studi itu menyebut peningkatan jelaga, polutan pembentuk kabut asap, dan karbon dioksida. The Verge menilai Anthropic menyebut perubahan iklim sebagai risiko bisnis padahal pusat data menambah emisi gas rumah kaca.
Bagaimana dengan Indonesia?
Berkas S-1 maupun laporan The Verge tidak membahas Indonesia atau rencana pusat data di sini. Pertanyaan tentang sumber listrik dan beban jaringan yang kini diperdebatkan di AS tetap relevan bagi negara mana pun yang menarik investasi pusat data, tetapi dampaknya di Indonesia belum bisa dipastikan dari bahan ini.
Apa berikutnya
Pendaftaran S-1 belum efektif, sehingga saham Anthropic belum bisa diperdagangkan. Perusahaan berencana mencatatkan saham Kelas A di Nasdaq dengan kode “ANT”. Seiring proses itu, risiko energi yang diungkapkan dalam berkas tersebut akan menjadi bahan penilaian calon investor.